GURU HONORER VS PENCUCI OMPRENK MBG: MANAKAH YANG MAMPU LAHIRKAN GENERASI HANDAL?


 



Dairi samut– Di tengah sorotan besar Program Makan Bergizi Gratis (MBG), satu pertanyaan tajam menggugat hati nurani bangsa: Siapa yang sesungguhnya menentukan kualitas masa depan anak bangsa? Apakah guru—baik honorer maupun PNS—yang bertahun-tahun menempa akal dan karakter, atau program gizi yang di lapangan justru menimbulkan kebingungan bahkan risiko kesehatan?
 
Nasib Guru: Di Tangan Merekalah Masa Depan Bangsa
Tak bisa dibantah, ijazah dan tanda tamat belajar adalah bukti nyata hasil kerja keras para pendidik. Baik guru honorer yang berjuang dengan upah minim tanpa jaminan, maupun guru PNS yang telah mapan, merekalah ujung tombak pembentukan kecerdasan, moral, dan keterampilan siswa. Mereka yang duduk di depan kelas setiap hari, menyusun materi, membimbing, dan menanamkan nilai luhur—itulah fondasi utama lahirnya generasi handal.
 
Namun hati terasa perih menyaksikan nasib guru honorer yang masih terabaikan. Pengabdian puluhan tahun belum sepenuhnya dihargai layak: gaji sering di bawah standar hidup, tanpa jaminan kesehatan memadai, dan kepastian status sebagai ASN/PPPK masih tertatih-tatih. Padahal, kualitas bangsa di masa depan sangat bergantung pada ketenangan hati dan kesejahteraan guru saat ini. Jangan harap lahir manusia unggul jika pendidiknya sendiri hidup dalam kegelisahan dan serba kekurangan.
 
Sorotan Tajam ke MBG: Diduga Buat Tenaga Kesehatan Kebingungan, Pernah Terjadi di Dairi
Di sisi lain, program MBG yang digadang-gadang sebagai solusi gizi justru menuai catatan merah serius di lapangan, khususnya di Kabupaten Dairi. Bukan hanya soal ketimpangan penggajian tenaga pendukung seperti pencuci alat makan, pelaksanaannya di daerah itu diduga kuat membuat tenaga kesehatan bingung menentukan sikap dan penanganan.
 
Hal ini disampaikan tegas oleh Arif Tumanger, seorang mahasiswa yang turun langsung meninjau pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, fakta di lapangan tak bisa ditutup-tutupi: pernah terjadi kejadian di mana pelaksanaan program berjalan kacau hingga membuat tenaga kesehatan kebingungan mengambil langkah yang tepat. Standar yang belum matang, kendali mutu yang lemah, serta koordinasi yang buruk antarinstansi membuat petugas medis kewalahan dan sulit bertindak cepat demi keselamatan siswa.
 
Mana Lebih Menentukan?
Jawabannya tegas: Gurulah yang melahirkan generasi handal. MBG boleh mendukung kesehatan fisik, tapi tanpa bimbingan pendidik yang kompeten dan sejahtera, makanan bergizi pun tak akan otomatis melahirkan kecerdasan dan karakter kuat. Ironisnya, negara seolah lebih cepat memastikan anggaran dan gaji untuk tenaga pendukung program gizi, sementara nasib guru honorer yang menjadi penentu kualitas otak dan budi pekerti anak bangsa masih tertunda penyelesaiannya.
 
Peringatan Keras untuk Pemerintah
Arif Tumanger selaku perwakilan kaum muda menegaskan peringatan keras bagi pemerintah:
 
“Jangan sampai negara lebih sibuk mengurus kebersihan alat makan daripada menyelamatkan nasib guru yang membersihkan dan mengasah akal budi anak negeri. Program MBG harus diperbaiki total, dievaluasi tuntas, dan diperbaiki sistemnya agar tidak lagi membingungkan tenaga kesehatan serta membahayakan siswa sebagaimana pernah terjadi di Dairi.”
 
Ia menambahkan, yang terpenting: segera berikan kepastian status dan kesejahteraan layak bagi seluruh guru, terutama honorer. Sebab, seberapa pun bergizinya makanan yang disantap, jika pendidiknya tak dihargai dan tak tenang mengabdi, mustahil tercipta generasi yang benar-benar cerdas, berintegritas, dan siap memajukan bangsa. Masa depan Indonesia ada di tangan guru—jangan biarkan tangan itu gemetar menahan beban penderitaan.
 

Posting Komentar

0 Komentar